Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘jepara’ Category

Jika pohon randu mulai berbunga, dulu kebanyakan orang melihatnya sebagai pertanda hadirnya musim hujan. Demikian juga hadirnya musim kemarau ditandai dengan pecahnya kulit buah pohon randu saat angin akan menerbangkan kapuk yang halus dan lembut ke udara.

Namun, pertanda alam itu saat ini mulai sulit diandalkan. Tiba-tiba saja di tengah masa kemarau, pertengahan Agustus lalu, hujan deras mengguyur Kota Semarang, air menggenang di sudut-sudut kota.

Alam telah berubah. Dulu di banyak tempat dengan mudah ditemukan pohon randu di pinggir jalan menuju pedesaan. Kemurahan alam itu pernah menorehkan nama besar Java Kapok di seantero dunia. Sekarang, di beberapa daerah yang dulu dikenal sebagai pusat tumbuhnya komoditas itu, seperti Pati, Kudus, dan Jepara, pun pohon-pohon randu juga tak semarak dulu. ”Dulu pegunungan Muria penuh ditumbuhi randu,” kata Mustaqim, warga Desa Terban, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Pada masa pemerintahan kolonial, komoditas itu diekspor, menjadi nomor satu di dunia. Tak hanya kapuknya, minyak biji kapuk pun diekspor. Hutan randu pun terjaga. Sebaliknya, saat ini lereng pegunungan di kawasan Pati dan sekitarnya tampak gundul.

Menurun

Dalam data statistik diketahui, dalam tiga tahun terakhir jumlah tanaman di Pati terus menurun. Tentu saja berkurangnya jumlah tanaman itu berpengaruh terhadap jumlah produksi.

Pada tahun 2004, jumlah luasan tanaman kapuk mencapai 17.870 hektar dengan produksi mencapai 8.370,71 ton. Tingkat produktivitasnya mencapai 554 kilogram per hektar. Pada tahun berikutnya jumlah lahan produksi turun 1.386 hektar hingga hanya tersisa 16.484 hektar. Berkurangnya luas lahan berpengaruh juga jumlah produksi tahun 2005 dengan hanya mencapai 8.344,15 ton. Pada tahun 2006 luasan tanam kapuk di Pati kembali turun hingga hanya 16.330 hektar. Penurunan itu juga memengaruhi tingkat produksi yang juga turun sebanyak 119,31 ton.

Menurut Santoso, pengusaha kapuk asal Desa Karaban, Pati, salah satu penyebabnya adalah banyaknya pohon kapuk yang ditebang dan digunakan sebagai bahan bangunan. Berkurangnya pasokan membuat para pengusaha mencampur kapuk mereka dengan kapuk yang didatangkan dari Thailand.

Tidak hanya itu, pabrik minyak klentheng (biji kapuk) di Desa Kauman, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, sudah dua tahun berhenti akibat kelangkaan bahan baku. Semasa jaya dan bahan baku melimpah, pabrik itu bisa mengolah 24 ton biji kapuk per hari. Karena kelangkaan bahan baku, pemilik perusahaan Tio Hien Thwan (THT) pun menutup produksinya sejak dua tahun lalu. Pabrik pun terbengkalai. Bahkan, 10 mesin pengolah menjadi sarang laba-laba. Padahal, pabrik tersebut pada saat masih berproduksi menyerap sedikitnya 30 pekerja.

Semula pabrik yang berdiri tahun 1937 itu memproduksi minyak kacang. Sejak 1971 mereka mulai memproduksi minyak klentheng. Dukungan bahan baku masih bagus karena hampir di seluruh lereng Muria dipenuhi kapuk.

Bahkan, di sepanjang jalan dulu banyak dipenuhi tanaman randu yang menghasilkan kapuk, seperti di Trungkal, Tayu, atau Bangsri. ”Tetapi, kini banyak tanaman yang ditebang untuk dibuat papan perlengkapan pengecoran. Dan kini yang masih bertahan justru pabrik pengolahan kapuk berbentuk industri rumahan, seperti di Desa Karaban,” kata Agus Pramukajaya, yang dulu menangani bagian produksi minyak klentheng di THT.

Agus menuturkan, pasokan bahan baku mulai tersendat sejak lima tahun lalu. Pasokan bahan baku turun akibat produksi kapuk menurun setelah banyak pohon kapuk ditebang. ”Masyarakat memilih menanam ketela pohon. Kalau pohon randu tidak ditebang, itu akan menghambat pertumbuhan ketela karena sinar matahari terhalang. Masyarakat memilih tanam ketela karena lebih bisa cepat dipanen,” kata Agu.

Menurut Agus, pabrik minyak klentheng di THT dulunya bisa mengolah 24 ton klentheng per hari. Yang menjadi minyak hanya 14 persen, sisanya berupa bungkil. Bungkilnya bisa diekspor untuk pakan ternak dan media pembiakan jamur merang. Minyak klentheng diekspor ke Jepang sebagai bahan insektisida dan pelumas mi basah agar tidak mudah apek. Adapun abu klothok dari kulit randu bisa menjadi soda kristal untuk bahan baku sabun. ”Sebetulnya, semua bagian kapuk bisa digunakan. Kalau pasokan biji kapuk masih ada, mesin kami masih bisa mengolah minyak biji kapuk,” kata Agus.

Potensi

Menurut teknisi Perkebunan Percobaan Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Sata Yoga (47), meski sebagian besar perkebunan kapuk sudah berkurang, pengembangan plasma nutfah di perkebunan kapuk percobaan tetap dipertahankan dan saat ini sudah memiliki 155 nomor. ”Kami juga sudah melepas lima nomor. Bibit paling tua di sini tahun 1934 yang didatangkan dari Bogor,” kata Sata.

Hanya saja, para pengusaha industri kapuk randu hingga saat ini belum berencana membudidayakan lagi tanaman tersebut. Mereka masih menggantungkan pasokan kapuk dari daerah lain atau bertahan dengan produksi alam yang jumlahnya terus menurun.

Padahal, menurut beberapa pengusaha di Karaban, pasar untuk semua hasil turunan kapuk randu besar. Menurut Santoso, selain pasar dalam negeri, pasar luar negeri, seperti Malaysia, siap menampung komoditas tersebut. Hanya saja, selain keterbatasan sumber bahan baku, keterbatasan dana juga menjadi kendala lainnya. Dibutuhkan dukungan pemerintah untuk pengembangan komoditas kapuk randu dan kelangsungan industri berskala menengah yang mengolah komoditas tersebut.

Menghutankan kembali sebagian wilayah pegunungan yang gundul dengan tanaman randu bukanlah hal yang buruk. Selain mempertahankan bahan baku, reboisasi dengan randu juga mampu mempertahankan wilayah dari ancaman bencana. (jos/las/aci/gal/nel)

kompas, 26 agustus 2008

Read Full Post »

PENDAHULUAN

Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan tanaman serbaguna, antara lain dapat digunakan sebagai tanaman industri, penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis.  Jambu mete memiliki prospek pasar cukup cerah, karena merupakan bahan baku industri pengolahan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.  Seperti  buah semunya; sebagai selai, manisan dan sirup, biji mete; sebagai makanan kecil, kulit biji; sebagai penghasil minyak yang digunakan dalam bahan industri plastik, cat dan pernis.

Potensi produksi jambu mete kabupaten Jepara per tahun sebesar 400 ton, dengan sentra produksi terutama berada di Kecamatan Nalumsari, Mayong, Keling dan Karimunjawa.  

BAHAN DAN PERALATAN

Untuk menghasilkan kacang mete tentunya membutuhkan bahan baku dan peralatan untuk menunjang berlangsungnya proses.

1.       Bahan

Kacang mete dihasilkan dari mete gelondong, kualitas bahan mete gelondong  yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kacang mete yang dihasilkan.

2.       Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kacang mete, sebagai berikut :

a.       Alat kacip mete, digunakan untuk memecahkan kulit gelondong mete

b.       Pisau, untuk mencongkel kulit mete gelondong

c.       Tungku pemanas berbahan bakar kayu, untuk pemanasan kacang mete guna pelepasan kulit ari

 

PROSES PEMBUATAN

Proses pengolahan mete di kelompokkan menjadi enam tahapan, yaitu :

1.       Gelondong Mete

Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, dipastikan gelondong mete sudah dipisahkan menurut kelasnya dengan menggunakan air.

-      Kw A : mete besar, mengkilat, tenggelam dalam air

-      Kw B : mete agak kecil, mengkilat, tenggelam, melayang

-      Kw C : mete kecil, tenggelam, melayang, terapung

-      Kadar air ± 8 %

Untuk mengetahui rendemen mete, dapat dipedomani lewat berat jenis gelondong mete

-      BJ -1 : menghasilkan kacang mete 20% per 1 kg gelondong mete

-      BJ 1+  : menghasilkan kacang mete 26% per 1 kg gelondong mete

-      Kw A (gelondong) BJ (1+) kadar air 3% : per kg membutuhkan kurang dari 175 biji gelondong mete

-      Kw A (gelondong) BJ (1+) kadar air 8% : per kg membutuhkan kurang dari 175 – 225 biji gelondong mete

2.       Pengupasan Kulit Gelondong Mete

Pengupasan kulit mete dilakukan dengan cara pengacipan.  Alat ini terbuat dari kayu balok landasan ukuran 8 x 12 x 40 cm, dan balok penahan ukuran      4x5x10 cm.  Bagian tengah balok landasan terdapat cekungan sesuai dengan bentuk alami gelondong mete.  Sedang bagian luar dilapisi plat besi.  Cekungan balok landasan dilengkapi pisau baja berbentuk cekung pula, sedang pisau engkol pemecah kulit dibentuk huruf M

3.       Cara Pengacipan

-      Gelondong mete ditekan di cekungan balok landasan dengan bagian perut menghadap ke atas

-      Pisau kacip ditekan mengiris kulit gelondong mete tepat pada belahan

-      Setelah terbelah, kacang mete dicukil dengan logam pipih / pisau

Cara kerja manual ini per pasang sehari dapat menghasilkan 40 – 45 kg gelondong mete atau 8 – 9 kg kacang mete.

4.       Pelepasan Kulit Ari

-      Dipanaskan di atas tungku / kompor sampai kering hingga mencapai kadar air 7%

-      Setelah kering mete diturunkan, dan saat mete masih terasa hangat segera dilakukan pelepasan kulit ari. 

-      Usahakan jangan sampai menunggu dingin, karena akan mempersulit pelepasan kulit ari

5.       Pengelasan Mutu

Mutu kacang mete ditentukan dari bentuk, ukuran, bobot, warna, rasa, bau, tekstur dan karakteristik biji.  Sedang rasa banyak dipengaruhi oleh faktor intrinsik alami, varietas dan faktor ekstrinsik (proses pengolahan).  Standar mutu kacang mete dijelaskan pada tabel di bawah ini.

 

Spesifikasi Persyaratan Mutu Biji Mete Kupas

No

Jenis Biji

Jenis Uji

Kadar air

warna

Biji bau

Biji kotor

Biji

Pecahan biji

Benda asing

1

2

4

5

6

7

8

9

10

1

Biji Utuh (Whole)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 0

Max 0

Max 1

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Kuning gading/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 2

Max 0

 

Mutu III

Max 6

Tdk lbh tua dr coklat muda

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

2

Biji Putus (Butts)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 0

Max 0

Max 1

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Kuning gading/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 2

Max 0

 

Mutu III

Max 6

Tdk lbh tua dr coklat muda

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

3

Biji Belah 2 (Splits)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 0

Max 0

Max 1

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Kuning gading/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 2

Max 0

 

Mutu III

Max 6

Tdk lbh tua dr coklat muda

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

4

Biji Pecah (Piece)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 5

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Tdk dipersyaratkan

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

5

Biji Hancur (Baby bid)

-

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 1

Max 2

Max 5

Max 0

 

6.       Pengemasan

Pengemasan memiliki peran besar dalam memper tahankan mutu produk. Tanpa pengemasan yang baik, produk akan mudah rusak, akibat pengaruh sinar matahari, kelembaban udara dan kerusakan mekanik (luka, pecah dan patah).  Pengemasan tidak dapat meningkatkan / memperbaiki mutu tetapi dapat mempertahankan / melindungi mutu produk kemasan.

Read Full Post »

hutan cadangan pangan

Hutan cadangan pangan adalah kawasan hutan yang kaya berbagai jenis tanaman sumber pangan alternatif bagi masyarakat.

 

Tujuan :

*       Meningkatkan cadangan pangan nasional melalui upaya budidaya tanaman pangan di kawasan hutan dengan prinsip pengayaan (penambahan tanaman pangan) tanpa merubah fungsi hutan

*       Terciptanya diversifikasi pangan melalui jenis-jenis pangan alternatif

*       Terwujudnya partisipasi masyarakat secara interaktif dalam penyediaan pangan

 

Sasaran:

*       Terbangunnya hutan cadangan pangan di seluruh Indonesia sebagai sumber karbohidrat dan protein.

*       Berkembangnya kelembagaan masyarakat dalam pengembangan hutan cadangan pangan

 

Gerakan hutan cadangan pangan

adalah pengembangan minat dan kesertaan semua golongan masyarakat untuk mengembangkan jenis tanaman yang menghasilkan bahan sumber karbohidrat

 

Jenis kegiatan :

*       Pengembangan tanaman di bawah tegakan, dalam pembangunan HCP yaitu penanaman jenis tanaman yang menghasilkan bahan pangan dibawah tegakan. Dengan lokasi areal HPHTI (BUMN dan Swasta), areal HPHKM, areal reboisasi/ rehabilitasi lahan, areal hutan rakyat. Jenis tanaman yaitu umbi-umbian dan jenis tanaman tahan naungan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh pelaksana HPHTI/HPH bersama masyarakat setempat, BUMN (lingkup Dephutbun) bersama kelompok binaannya, pelaksana proyek HCP dengan masyarakat setempat, dan masyarakat pemilik hutan rakyat.

*       Pembuatan model HCP, adalah kegiatan penanaman dan atau memperkaya hutan dengan jenis-jenis tanaman/ pohon pangan yang berumur panjang. Areal model HCP berbentuk kompak pada satu hamparan dengan luas minimal 25 Ha dengan sasaran lokasi adalah lahan kosong dan tidak produktif dalam kawasan : hutan produksi diluar HPH/HPHTI/BUMN, hutan produksi yang dapat dikonversi yang belum ada peruntukannya, hutan lindung, zona pemanfaatan taman nasional dan tanah negara bebas. Jenis tanaman yang dipilih adalah sesuai kondisi iklim setempat, disukai dan dapat diterima sebagai makanan substitusi oleh masyarakat setempat. Komposisi jenis tanaman adalah 70% pohon menghasilkan karbohidrat dan 30% jenis MPTS (pohon serbaguna) penghasil pangan lainnya. Penyelenggara pembuatan model HCP adalah proyek pembangunan HCP.

*       Pengkayaan jenis tanaman pangan, adalah suatu kegiatan memperkaya jenis tanaman pokok dengan jenis-jenis pohon yang menghasilkan bahan pangan. Sasaran lokasi pelaksanaan kegiatan ini adalah lokasi penanaman jenis tanaman kehidupan pada pembangunan HTI (5% luas HTI) diletakan pada batas luas areal HTI yang berbatasan dengan pemukiman penduduk, lokasi kegiatan penanaman tanah kosong/ tidak produktif di areal HPH, lokasi kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan rehabilitasi hutan eks HPH. Komposisi jenis tanaman adalah tanaman penghasil pangan + 30% dan + 70% adalah jenis tanaman kehidupan/ tanaman unggulan setempat/ tanaman kayu-kayuan. Penyelenggara adalah pelaksana HPHTI, pemegang HPH, pelaksana proyek rehabilitasi hutan dan masyarakat.

 

Persyaratan jenis tanaman HCP:

Jenis tanaman yang akan dikembangkan pada gerakan hutan cadangan pangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

*       Memenuhi persyaratan tumbuh pada lokasi yang ditanam, sehingga memperoleh produktivitas yang tinggi

*       Berfungsi baik melindungi tanah dari erosi dan berpengaruh baik terhadap tata air dan alam lingkungannya

*       Diutamakan jenis tanaman yang mengandung karbohidrat

 

Jenis-jenis tanaman:

*       Tanaman pohon/ tanaman tahunan seperti sukun, aren, nipah, sagu, tanaman buah-buahan seperti durian, duku, manggis

*       Tanaman umbi-umbian seperti iles-iles, garut, ganyong (ganyol), keladi (talas), gembili, ubi jalar, gadung, dll

*       Tanaman kehidupan/ tanaman unggulan setempat seperti jambu mete, kemiri, mangga, kayu manis, matoa

 

Sumber : dirjen rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial

Read Full Post »

Noma Komoditas

Produksi (Ton)

Sentra Produksi

1

3

4

Kelapa

13.341

Keling, Bangsri, Mlonggo, KrJawa

Kopi Robusta

873

Keling, Kembang, Batealit

Lada

19

Keling, Kembang, Mlonggo

Cengkeh

99

Keling, Kembang, Batealit

Jambu Mete

404

Keling, Kr Jawa, Mayong

Kapok  Randu

27.594

Keling, Kembang, Bangsri, Mlonggo, Batealit, Mayong

Jahe

1.458

Keling, Mlonggo, Batealit, Nalumsari

Kunyit

1.301

Keling, Kembang, Mlonggo, Bangsri, Nalumsari

Kencur

2.148

Keling, Mayong, Nalumsari

Laos

1.641

Keling, Kembang, Bangsri, Batealit, Mayong, Nalumsari

Tebu

175.541

Mayong, Nalumsari, Keling Kalinyamatan, Pecangaan

Kakao

5

Keling, Kembang, Batealit

Panili

3

Keling

Kapas

8

Kembang, Bangsri

Read Full Post »

Nama Perusahaan/ Asosiasi

Alamat

Komoditas

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)

Ruko Permata Plaza,   Jl Gajah Raya No. 88 Blok IV Semarang 50162                       Telp. 024-6747185

Kopi

Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia

Gedung JDC Lt. 3 Jl. Imam Bonjol No. 154 – 160 Semarang – 50139 Telp. 024 3556263

Bahan Jamu dan Obat

PT. BENGSAR TRADING COY

Jl. Dorang No. 1 Semarang

Bahan Jamu

PT Tunas Inti Mulia

Jl. Genteng Besar no.81 Surabaya 60275     Telp. 031-5315428

Perdagang-an hasil bumi

PT. Sumber Arto I

Jl. A Yani No. 54 Jepara 59415         Telp. 0291-591314

Kapok Fibre /serat kapok

CV. Coconut Center (Repindo)

Jl. Nitikan Baru No. 9 Yogyakarta Telp. 02747494998

Pengolahan kelapa terpadu

Read Full Post »

Air sangat diperlukan bagi berbagai aspek hidup dan kehidupan, baik untuk manusia maupun mahluk hidup lainnya serta lingkungan yang ada disekitarnya. Akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan kesejahteraan masyarakat memacu meningkatnya pemanfaatan berbagai macam sumber daya air yang ada.

 

Dalam kehidupan sehari-hari air merupakan sumberdaya alam yang penting, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun untuk menunjang pertumbuhan/ pembangunan ekonomi. Dengan dipacunya pertumbuhan ekonomi mengakibatkan permintaan akan sumberdaya air baik kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat pula. Sehingga pada tempat-tempat tertentu (perkotaan) kebutuhan akan air menyebabkan munculnya kerisauan berbagai pihak bahwa air bisa bergeser menjadi barang yang langka.

 

Untuk mengatasi atau mencegah terjadinya hal tersebut, maka yang dapat dilakukan oleh masyarakat saat ini adalah menghemat penggunaan air, menanam tanaman disekeliling halaman/ tanah kosong, mengurangi pemavingan halaman dan membuat sumur resapan.

 

Melihat kondisi curah hujan saat ini yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor dimana-mana, pembuatan sumur resapan merupakan cara yang paling baik dilakukan mengingat luas tanah yang dimiliki masyarakat sangat terbatas. Dengan pembuatan sumur resapan untuk setiap rumah, maka air hujan yang jatuh dari atap rumah dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Dengan demikian volume air tanah yang ada dapat bertambah sehingga kecemasan akan kekurangan air tanah (sumur) tidak terjadi/ dapat dicegah dan disamping itu juga mengurangi terjadinya bahaya banjir di daerah hilir/ daerah rawan banjir.

 

Bangunan sumur resapan adalah bangunan yang menyerupai sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh diatas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya kedalam tanah.

 

Manfaat Sumur Resapan

-     Mengurangi erosi dan sedimentasi

-     Menambah volume air tanah

 

Bangunan sumur resapan dapat dibuat dengan bentuk segi bentuk segiempat atau silinder. Dasar sumur harus terletak diatas permukaan air tanah sehingga tidak keluar air dan menjadi sumur. Berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh dari atap rumah atau daerah kedap air lainnya dan memasukannya kedalam tanah.

 

Dinding sumur tanpa atau dengan susunan batu bata, batu kali, batako, buis beton, anyaman bambu dan lain-lain. Dasar sumur tidak diisi batu belah maupun ijuk

Bangunan pelengkap :

- Bak kontrol dan tutup

- Tutup sumur resapan

- Saluran masuk dan keluar

- Talang air (kalau diperlukan)

 

>>des2008

Read Full Post »

Memasuki musim hujan begini, Gapoktan Langgeng Makmur yang berlokasi di Dukuh Tanggar, Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Jepara  banyak didatangi oleh para tamu. Sebagian besar mereka datang untuk membeli bibit yang dikembangkan selama ini baik untuk tanaman pertanian maupun kehutanan. “Banyak pemesan dari dalam dan luar daerah dengan jumlah banyak,” ujar Mahmudi maupun Solikan pengelola yang juga mengurus mewakili ketuanya, M. Masyruri kepada reporter Gelora Bumi Kartini.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Langgeng Makmur yang berdiri 11 Pebruari 2004 ini memang berhasil mengembangkan usahanya dalam bidang pembibitan dan pembenihan dengan memanfaatkan lahan seluas 1,6 hektar. Berbagai jenis tanaman yang dikembangkan dalam pembibitan itu antara lain ada lada, kakao, kopi, cengkeh, panili, kelapa (termasuk kelapa kopyor), sengon -laut dan beberapa jenis bibit tanaman pertanian maupun kehutanan. Harganya bervariasi melihat jenis bibitnya antara Rp 750 sampai Rp 17.500/ batang.

 

Mahmudi lantas memerinci harga-harga tersebut, misalnya saja harga bibit kakao umur minimal 6 bulan antara Rp 1.000- Rp 2.000/ batang, lada juga umur 6 bulan harganya Rp 2.500/ batang. Untuk bibit kopi aneka jenis harga sebatangnya antara Rp 750- Rp 1500. Demikian juga cengkeh harganya antara Rp 3.000-Rp 3.500/ batang, panili Rp 2.500/ batang, kelapa biasa Rp 6.500- Rp 10.000/ batang dan yang bibit kelapa kopyor antara Rp 10.000 – Rp 17.500/ batang. “Biasanya para pembeli dalam jumlah banyak jauh hari sudah memesan. Sehingga kadang sampai kehabisan stok dan banyak yang tidak kebagian,” ujarnya.

 

Dijelaskan, bahwa disamping dikembangkan di kelompok, beberapa pembibitan dilakukan di sub kelompok lain seperti cengkeh maupun sengon laut. Pihaknya juga berusaha untuk mengembangkan lebih banyak lagi demi mencukupi kebutuhan permintaan yang terus meningkat. Kesadaran masyarakat yang cukup tinggi dalam bertanam bibit di lahannya masing-masing menjadikan permintaan lebih banyak. “Kita baru saja menerima pesanan bibit kelapa dalam jumlah banyak dari kabupaten Rembang,” ujar Mahmudi didampingi Solikan.

 

Keberhasilan Gapoktan dalam membuka usaha pembibitan ini menjadi daya tarik dari pihak lain sehingga sering menjadi ajang studi banding dari daerah/ kabupaten lain seperti dari Semarang dan Rembang. Disamping itu lokasi ini juga baru saja menjadi tempat untuk kuliah lapang pertanian dari Keling dan Donorojo.

 

Ketua maupun pengurus lain mengakui perhatian pemerintah terhadap keberadaan Gapoktan Langgeng Makmur di Damarwulan ini cukup besar. Berbagai sarana dan prasarana dibantu termasuk gedung  sekretariat yang diresmikan oleh Bupati Hendro Martojo. Sarana dan prasarana yang dimilikinya antara lain ada g e n s e t, handtraktor, gudang, pompaair,screenhouse dan lahan pembibitan. Usaha  ini juga membuka lapangan pekerjaan baru dan menambah kesibukan bagi para ibu di sekitarnya.

 

KepaIa  Dishutbun Kabupaten Jepara, Drs Wahyudi, MM mengakui bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Gapoktan Langgeng Makmur bisa menjadi contoh bagi kelompok lain. Masyarakat juga diharapkan untuk memanfaatkan hasil pembibitan ini. Disamping itu masyarakat juga diajak untuk sadar mengolah tanah dan mengembangkan usaha penanaman utamanya di daerah atas sehingga air tidak mengalir ke bawah tetapi meresap ke tanah. “Hutan, tanah dan air satu hal yang harus dirawat dalam upaya mewujudkan keseimbangan alam,” paparnya didampingi Kabid Perkebunan, Ir Paryono, MSi.

 

Dalam kesempatan terpisah, Ir Paryono, MSi menjelaskan, bahwa kelompok tani, koperasi, PPL dan anggota kelompok tani dari Jepara masing-masing meraih juara tiga baik tingkat Jateng maupun nasional dalam lomba akselerasi tebu dalam upaya meningkatkan swa sembada gula nasional.

 

Kelompok tani yang meraih juara itu dari Desa Nalumsari, sedang koperasinya Tani Maju dari Desa Pendosawalan. Untuk anggota kelompok taninya dari Desa Banyuputih. Prestasi juga diraih oleh petugas (PPL). Untuk PPL dan anggota kelompok tani meraih juara III tingkat nasional. Sedang kelompok tani dan koperasi juara III  tingkat Jawa Tengah,” papar Ir Paryono, MSi. (Skt)

 

(Gelora Bumi Kartini Edisi Nopember 2008 Halaman 30-31)

Read Full Post »

Older Posts »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.