Feeds:
Tulisan
Komentar

sedih hutanku

disini pohon hangus legam menghitam
tupai menangis hilang tempat tinggal
pelatuk tepekur musnah tempat bernaung

disini sungai kering kerontang
ikan tiada entah pergi kemana
udang menghilang tak satupun tersisa

disini rumput-rumput meringkuk layu
disini bunga hutan tersedu sendu
mengapa jadi begini
mengapa jadi begini
pohon hangus sungai kering
rumput meringkuk bunga tersedu

ah…aku tak tahu
ah…aku tak tahu

Jika pohon randu mulai berbunga, dulu kebanyakan orang melihatnya sebagai pertanda hadirnya musim hujan. Demikian juga hadirnya musim kemarau ditandai dengan pecahnya kulit buah pohon randu saat angin akan menerbangkan kapuk yang halus dan lembut ke udara.

Namun, pertanda alam itu saat ini mulai sulit diandalkan. Tiba-tiba saja di tengah masa kemarau, pertengahan Agustus lalu, hujan deras mengguyur Kota Semarang, air menggenang di sudut-sudut kota.

Alam telah berubah. Dulu di banyak tempat dengan mudah ditemukan pohon randu di pinggir jalan menuju pedesaan. Kemurahan alam itu pernah menorehkan nama besar Java Kapok di seantero dunia. Sekarang, di beberapa daerah yang dulu dikenal sebagai pusat tumbuhnya komoditas itu, seperti Pati, Kudus, dan Jepara, pun pohon-pohon randu juga tak semarak dulu. ”Dulu pegunungan Muria penuh ditumbuhi randu,” kata Mustaqim, warga Desa Terban, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Pada masa pemerintahan kolonial, komoditas itu diekspor, menjadi nomor satu di dunia. Tak hanya kapuknya, minyak biji kapuk pun diekspor. Hutan randu pun terjaga. Sebaliknya, saat ini lereng pegunungan di kawasan Pati dan sekitarnya tampak gundul.

Menurun

Dalam data statistik diketahui, dalam tiga tahun terakhir jumlah tanaman di Pati terus menurun. Tentu saja berkurangnya jumlah tanaman itu berpengaruh terhadap jumlah produksi.

Pada tahun 2004, jumlah luasan tanaman kapuk mencapai 17.870 hektar dengan produksi mencapai 8.370,71 ton. Tingkat produktivitasnya mencapai 554 kilogram per hektar. Pada tahun berikutnya jumlah lahan produksi turun 1.386 hektar hingga hanya tersisa 16.484 hektar. Berkurangnya luas lahan berpengaruh juga jumlah produksi tahun 2005 dengan hanya mencapai 8.344,15 ton. Pada tahun 2006 luasan tanam kapuk di Pati kembali turun hingga hanya 16.330 hektar. Penurunan itu juga memengaruhi tingkat produksi yang juga turun sebanyak 119,31 ton.

Menurut Santoso, pengusaha kapuk asal Desa Karaban, Pati, salah satu penyebabnya adalah banyaknya pohon kapuk yang ditebang dan digunakan sebagai bahan bangunan. Berkurangnya pasokan membuat para pengusaha mencampur kapuk mereka dengan kapuk yang didatangkan dari Thailand.

Tidak hanya itu, pabrik minyak klentheng (biji kapuk) di Desa Kauman, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, sudah dua tahun berhenti akibat kelangkaan bahan baku. Semasa jaya dan bahan baku melimpah, pabrik itu bisa mengolah 24 ton biji kapuk per hari. Karena kelangkaan bahan baku, pemilik perusahaan Tio Hien Thwan (THT) pun menutup produksinya sejak dua tahun lalu. Pabrik pun terbengkalai. Bahkan, 10 mesin pengolah menjadi sarang laba-laba. Padahal, pabrik tersebut pada saat masih berproduksi menyerap sedikitnya 30 pekerja.

Semula pabrik yang berdiri tahun 1937 itu memproduksi minyak kacang. Sejak 1971 mereka mulai memproduksi minyak klentheng. Dukungan bahan baku masih bagus karena hampir di seluruh lereng Muria dipenuhi kapuk.

Bahkan, di sepanjang jalan dulu banyak dipenuhi tanaman randu yang menghasilkan kapuk, seperti di Trungkal, Tayu, atau Bangsri. ”Tetapi, kini banyak tanaman yang ditebang untuk dibuat papan perlengkapan pengecoran. Dan kini yang masih bertahan justru pabrik pengolahan kapuk berbentuk industri rumahan, seperti di Desa Karaban,” kata Agus Pramukajaya, yang dulu menangani bagian produksi minyak klentheng di THT.

Agus menuturkan, pasokan bahan baku mulai tersendat sejak lima tahun lalu. Pasokan bahan baku turun akibat produksi kapuk menurun setelah banyak pohon kapuk ditebang. ”Masyarakat memilih menanam ketela pohon. Kalau pohon randu tidak ditebang, itu akan menghambat pertumbuhan ketela karena sinar matahari terhalang. Masyarakat memilih tanam ketela karena lebih bisa cepat dipanen,” kata Agu.

Menurut Agus, pabrik minyak klentheng di THT dulunya bisa mengolah 24 ton klentheng per hari. Yang menjadi minyak hanya 14 persen, sisanya berupa bungkil. Bungkilnya bisa diekspor untuk pakan ternak dan media pembiakan jamur merang. Minyak klentheng diekspor ke Jepang sebagai bahan insektisida dan pelumas mi basah agar tidak mudah apek. Adapun abu klothok dari kulit randu bisa menjadi soda kristal untuk bahan baku sabun. ”Sebetulnya, semua bagian kapuk bisa digunakan. Kalau pasokan biji kapuk masih ada, mesin kami masih bisa mengolah minyak biji kapuk,” kata Agus.

Potensi

Menurut teknisi Perkebunan Percobaan Muktiharjo, Kecamatan Margorejo, Kabupaten Pati, Sata Yoga (47), meski sebagian besar perkebunan kapuk sudah berkurang, pengembangan plasma nutfah di perkebunan kapuk percobaan tetap dipertahankan dan saat ini sudah memiliki 155 nomor. ”Kami juga sudah melepas lima nomor. Bibit paling tua di sini tahun 1934 yang didatangkan dari Bogor,” kata Sata.

Hanya saja, para pengusaha industri kapuk randu hingga saat ini belum berencana membudidayakan lagi tanaman tersebut. Mereka masih menggantungkan pasokan kapuk dari daerah lain atau bertahan dengan produksi alam yang jumlahnya terus menurun.

Padahal, menurut beberapa pengusaha di Karaban, pasar untuk semua hasil turunan kapuk randu besar. Menurut Santoso, selain pasar dalam negeri, pasar luar negeri, seperti Malaysia, siap menampung komoditas tersebut. Hanya saja, selain keterbatasan sumber bahan baku, keterbatasan dana juga menjadi kendala lainnya. Dibutuhkan dukungan pemerintah untuk pengembangan komoditas kapuk randu dan kelangsungan industri berskala menengah yang mengolah komoditas tersebut.

Menghutankan kembali sebagian wilayah pegunungan yang gundul dengan tanaman randu bukanlah hal yang buruk. Selain mempertahankan bahan baku, reboisasi dengan randu juga mampu mempertahankan wilayah dari ancaman bencana. (jos/las/aci/gal/nel)

kompas, 26 agustus 2008

Pati, Kompas – Jejak Java kapok, komoditas lokal yang pernah merajai pasar internasional, masih dapat ditemui di Kebun Percobaan Mukti Harjo dan Ngemplak, Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Di kebun ini terdapat pohon kapuk tertua yang ditanam pada tahun 1934.

”Kebun ini dulu bagian dari program pemerintahan Belanda antara 1800-an akhir hingga awal 1900-an, yaitu program economic garden atau introduksi tanaman yang bernilai ekonomis, selajutnya dibagikan kepada penanam atau lembaga yang berminat membudidayakannya,” kata Sata Yoga (47), teknisi Kebun Percobaan Mukti Harjo dan Ngemplak, Kamis (21/8).

Di areal kebun seluas 94 hektar tersebut, selain tanaman kapuk tertua yang didapat dari Lembaga Penelitian Tanaman Industri yang berada di Kebun Raya Bogor, juga terdapat 154 plasma nutfah tanaman kapuk lokal asal Indonesia lainnya, asal Karibia, dan beberapa hasil persilangan.

Di areal ini telah muncul lima varietas bibit unggul baru, yaitu Mukti Harjo (MH) 1,2,3, dan 4 serta Togo. Dengan menanam varietas unggul ini, mampu dihasilkan 2,5 ton kapuk per hektar.

Kejayaan Java kapok

Sata Yoga mengatakan, ke-155 plasma nutfah tanaman kapuk menjadi monumen hidup sebagai pengingat kejayaan Java kapok. Penelitian dan pengembangan jenis-jenis tanaman kapuk baru juga terus dikembangkan dengan optimisme suatu saat komoditas bernilai ekonomis tinggi ini akan kembali berjaya di Indonesia.

Menurut Sata Yoga, puluhan tahun silam hingga sekitar 10 tahun lalu, masyarakat Pati, Jepara, Juwana, dan kawasan lereng Gunung Muria akrab dengan pohon kapuk randu. Kapuk randu tidak hanya ditanam di kebun-kebun, tetapi juga di pinggiran jalan, bahkan di pematang sawah. Data dari Kebun Percobaan Mukti Harjo dan Ngemplak, pada pertengahan tahun 1900-an, komoditas kapuk randu Jawa termasuk dalam 11 besar komoditas perkebunan dan pertanian.

Kusno (36), pemilik usaha ”pengodolan” (pemisahan kapuk dari kulit) di Desa Karaban, Kecamatan Gabus, Pati, mengatakan, kapuk randu menjadi tanaman yang juga berfungsi sebagai tabungan warga karena bisa memberi pemasukan cukup besar. Tanaman kapuk bisa dipanen setahun sekali pada Juni dan diolah bertahap hingga Januari.

Agus Pramukajaya (47), mantan kepala produksi minyak dari kelenteng (biji kapuk) di Firma Tio Hien Twan, Juwana, menambahkan, karena banyaknya tanaman kapuk randu, hingga sekitar lima tahun lalu masih berdiri puluhan pabrik kapuk yang memisahkan isi kapuk dari biji dan kulitnya.

”Hasilnya adalah kapuk-kapuk halus dan bersih kualitas ekspor yang banyak diambil perusahaan Eropa dan Amerika untuk bahan pakaian. Namun, kini dengan makin banyaknya pertambahan penduduk, menunggu satu tahun sekali untuk panen terlalu lama. Akhirnya terjadi alih fungsi lahan menjadi lahan tanaman cepat panen, seperti singkong dan tebu. Pabrik pun kekurangan bahan baku sehingga tutup, termasuk perusahaan pembuatan minyak ini,” kata Agus Pramukajaya.

Baik Agus, Kusno, maupun Sata berharap dengan inovasi-inovasi yang dilakukan, kapuk randu Jawa nantinya akan kembali menjadi komoditas yang menjanjikan. (aci/gal/nel)

kompas, 23 agustus 2008

MENJELANG petang akhir pekan di Jalan Braga, Bandung, tiga gadis Belanda, Annelieke, Lisette, dan Esther dari Leiden, melepas lelah setelah berkeliling kota tua dengan minum kopi. Let’s have a cup of Java-mari minum secangkir Jawa-adalah undangan minum kopi yang populer bagi orang Eropa dan Amerika.

Minum kopi masih menjadi kebiasaan orang Eropa daratan dan Amerika, tidak ubahnya minum teh di sore hari bagi orang Inggris. “We do love coffee,” kata Annelieke singkat. Selama empat bulan berada di Jawa medio tahun 2007, kopi menjadi salah satu menu minuman harian mereka.

Itulah sepenggal riwayat tidak terpisahkan kopi jawa bagi orang kulit putih yang dulu menjadi primadona yang diangkut dari perkebunan dataran tinggi melalui Jalan Raya Pos untuk diekspor ke Eropa. Kopi Jawa adalah salah satu primadona seperti kina, tebu, teh, dan karet yang kini semakin surut pamornya karena sistem budidaya pertanian yang coba sana coba sini sehingga kehilangan fokus.

Sebagai contoh nyata adalah kerangka-kerangka beton bangunan bedeng buatan Belanda di tengah sawah dan kebun di sebuah perkampungan di Cadas Pangeran. Di masa silam, menurut warga, bedeng tersebut merupakan bagian dari kompleks perkebunan kopi yang tumbuh subur di sekitar wilayah tersebut.

Sungguh disayangkan, kopi jawa akhirnya kehilangan pamor karena salah urus dan kebijakan pemerintahan yang tidak tentu arah. Berbeda dengan Malaysia yang tetap melestarikan perkebunan karet dan lada sejak zaman Kolonial Inggris hingga pascakemerdekaan tahun 1957 tetap lestari sampai detik ini.

Padahal, menurut Widya Pratama, pemilik Aroma Kopi yang didirikan sejak tahun 1930, kopi terbaik di dunia adalah kopi jawa. “Curah hujan dan tingkat keasaman tanah di Jawa sangat pas untuk budidaya kopi. Jauh lebih baik dari kopi Amerika Latin ataupun Afrika. Untung sekarang sudah mulai ada kesadaran lagi untuk menanam kopi jawa. Dulu dataran tinggi Lembang merupakan surga perkebunan kopi yang kini tergusur perumahan. Sekarang di Pangalengan sudah mulai dirintis penanaman kopi jawa,” kata Widya.

Yuvlinda Susanta, Manager Komunikasi PT Sari Coffee Indonesia yang mengelola Starbucks, menjelaskan, pihaknya pernah mengenalkan kembali kopi jawa melalui gerai kopi Starbucks yang ada di seluruh dunia. “Secara kualitas memang sangat bagus. Tetapi dari sisi kuantitas selanjutnya tidak terpenuhi sehingga penjualan terhenti. Kita masih terus mencari upaya untuk mengangkat kembali citra kopi jawa,” kata Yuvlinda.

Berawal dari Tanam Paksa

Kejayaan kopi jawa berawal dari penerapan tanam paksa (cultuur stelsel) masa Gubernur Jenderal Johannes van Den Bosch berkuasa (1830-1840). Peter Boomgard dalam buku Anak Jajahan Belanda Sejarah Sosial dan Ekonomi Jawa 1795-1880 mencatat, tanam paksa mewajibkan petani mengalokasikan seperlima lahan untuk tanaman bagi pasar Eropa, yakni kopi, tebu, nila, teh, dan tembakau.

Sungguh indah Jawa tempo dulu. Betapa pertanian dan perkebunan dikelola secara terarah meski ada praktik korupsi serta pengisapan di kalangan elite penguasa Bumiputera. Alfred Russel Wallace—sang naturalis terkenal yang namanya diabadikan sebagai garis pemisah keragaman fauna di sebelah barat dan timur Nusantara—bahkan mengklaim Jawa sebagai The finest tropical island in the world atau pulau tropis terbaik di dunia. Wallace berkelana selama tiga setengah bulan di Jawa tahun 1861. Pulau tersubur, terpadat, dan terindah di seluruh tropis. Begitu banyak gunung berapi memberkahi Jawa dengan tanah yang subur, kenang Wallace.

Dalam Java a Travellers Anthology disebutkan, Wallace mengunjungi kebun kopi di Wonosalem di kaki Gunung Arjuna tidak jauh dari Surabaya. Wallace mengumpulkan spesimen burung merak di Wonosalem. Dalam jurnal yang diterbitkan tahun 1869 itu Wallace juga memuji-muji sistem pemerintahan kolonial Hindia Belanda yang tetap mempertahankan keberadaan elite lokal di tingkat desa, para bupati, budidaya perkebunan kopi dan teh, keindahan alam, candi-candi Jawa yang lebih indah dari India dan peninggalan purbakala di Amerika Latin wilayah jajahan Inggris.

Eksotisme Jawa dikenal di dunia Barat, terutama lewat hasil buminya, yakni kopi. Widya Pratama menambahkan, kopi jawa dari jenis Arabica ataupun Robusta memiliki kualitas premium di dunia. 

Namun, biji kopi harus disimpan lima tahun untuk jenis Robusta dan delapan tahun bagi kopi Arabica untuk selanjutnya diproses demi mendapatkan rasa terbaik. Dari 100 kilogram biji kopi (berry) kering akan didapat sekitar 80 kilogram bubuk kopi yang bebas dari rasa masam. Memasak biji kopi jawa pun seharusnya menggunakan kayu bakar dari pohon karet dan disangray di dalam sebuah wadah berbentuk globe. “Sayang banyak pengusaha kopi jawa yang sekarang tidak mematuhi kaidah tersebut dan mengejar omzet belaka tanpa memedulikan mutu,” kata Widya.

Demi membangkitkan kembali kejayaan kopi jawa, Widya mulai merintis penanaman kembali kopi di sekitar Pangalengan bermitra dengan petani lokal. Kopi jawa terbaik hanya dipanen setahun sekali. Dia menyayangkan hilangnya perkebunan kopi di Lembang dan sekitar Cadas Pangeran. Kini, perlahan tetapi pasti, pamor kopi jawa mulai dibangkitkan oleh pelaku bisnis meski jauh dari perhatian pemerintah.

diambil dari kompas, 20 agustus 2008

pengolahan mete

PENDAHULUAN

Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) merupakan tanaman serbaguna, antara lain dapat digunakan sebagai tanaman industri, penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis.  Jambu mete memiliki prospek pasar cukup cerah, karena merupakan bahan baku industri pengolahan yang memiliki nilai ekonomi cukup tinggi.  Seperti  buah semunya; sebagai selai, manisan dan sirup, biji mete; sebagai makanan kecil, kulit biji; sebagai penghasil minyak yang digunakan dalam bahan industri plastik, cat dan pernis.

Potensi produksi jambu mete kabupaten Jepara per tahun sebesar 400 ton, dengan sentra produksi terutama berada di Kecamatan Nalumsari, Mayong, Keling dan Karimunjawa.  

BAHAN DAN PERALATAN

Untuk menghasilkan kacang mete tentunya membutuhkan bahan baku dan peralatan untuk menunjang berlangsungnya proses.

1.       Bahan

Kacang mete dihasilkan dari mete gelondong, kualitas bahan mete gelondong  yang digunakan akan sangat berpengaruh terhadap kualitas kacang mete yang dihasilkan.

2.       Peralatan

Peralatan yang dibutuhkan dalam proses pembuatan kacang mete, sebagai berikut :

a.       Alat kacip mete, digunakan untuk memecahkan kulit gelondong mete

b.       Pisau, untuk mencongkel kulit mete gelondong

c.       Tungku pemanas berbahan bakar kayu, untuk pemanasan kacang mete guna pelepasan kulit ari

 

PROSES PEMBUATAN

Proses pengolahan mete di kelompokkan menjadi enam tahapan, yaitu :

1.       Gelondong Mete

Sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai, dipastikan gelondong mete sudah dipisahkan menurut kelasnya dengan menggunakan air.

-      Kw A : mete besar, mengkilat, tenggelam dalam air

-      Kw B : mete agak kecil, mengkilat, tenggelam, melayang

-      Kw C : mete kecil, tenggelam, melayang, terapung

-      Kadar air ± 8 %

Untuk mengetahui rendemen mete, dapat dipedomani lewat berat jenis gelondong mete

-      BJ -1 : menghasilkan kacang mete 20% per 1 kg gelondong mete

-      BJ 1+  : menghasilkan kacang mete 26% per 1 kg gelondong mete

-      Kw A (gelondong) BJ (1+) kadar air 3% : per kg membutuhkan kurang dari 175 biji gelondong mete

-      Kw A (gelondong) BJ (1+) kadar air 8% : per kg membutuhkan kurang dari 175 – 225 biji gelondong mete

2.       Pengupasan Kulit Gelondong Mete

Pengupasan kulit mete dilakukan dengan cara pengacipan.  Alat ini terbuat dari kayu balok landasan ukuran 8 x 12 x 40 cm, dan balok penahan ukuran      4×5x10 cm.  Bagian tengah balok landasan terdapat cekungan sesuai dengan bentuk alami gelondong mete.  Sedang bagian luar dilapisi plat besi.  Cekungan balok landasan dilengkapi pisau baja berbentuk cekung pula, sedang pisau engkol pemecah kulit dibentuk huruf M

3.       Cara Pengacipan

-      Gelondong mete ditekan di cekungan balok landasan dengan bagian perut menghadap ke atas

-      Pisau kacip ditekan mengiris kulit gelondong mete tepat pada belahan

-      Setelah terbelah, kacang mete dicukil dengan logam pipih / pisau

Cara kerja manual ini per pasang sehari dapat menghasilkan 40 – 45 kg gelondong mete atau 8 – 9 kg kacang mete.

4.       Pelepasan Kulit Ari

-      Dipanaskan di atas tungku / kompor sampai kering hingga mencapai kadar air 7%

-      Setelah kering mete diturunkan, dan saat mete masih terasa hangat segera dilakukan pelepasan kulit ari. 

-      Usahakan jangan sampai menunggu dingin, karena akan mempersulit pelepasan kulit ari

5.       Pengelasan Mutu

Mutu kacang mete ditentukan dari bentuk, ukuran, bobot, warna, rasa, bau, tekstur dan karakteristik biji.  Sedang rasa banyak dipengaruhi oleh faktor intrinsik alami, varietas dan faktor ekstrinsik (proses pengolahan).  Standar mutu kacang mete dijelaskan pada tabel di bawah ini.

 

Spesifikasi Persyaratan Mutu Biji Mete Kupas

No

Jenis Biji

Jenis Uji

Kadar air

warna

Biji bau

Biji kotor

Biji

Pecahan biji

Benda asing

1

2

4

5

6

7

8

9

10

1

Biji Utuh (Whole)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 0

Max 0

Max 1

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Kuning gading/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 2

Max 0

 

Mutu III

Max 6

Tdk lbh tua dr coklat muda

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

2

Biji Putus (Butts)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 0

Max 0

Max 1

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Kuning gading/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 2

Max 0

 

Mutu III

Max 6

Tdk lbh tua dr coklat muda

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

3

Biji Belah 2 (Splits)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 0

Max 0

Max 1

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Kuning gading/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 2

Max 0

 

Mutu III

Max 6

Tdk lbh tua dr coklat muda

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

4

Biji Pecah (Piece)

 

 

 

 

 

 

 

Mutu I

Max 5

Kuning gading/ keputih2an/ coklat muda

Normal

Max 0

Max 2

Max 5

Max 0

 

Mutu II

Max 6

Tdk dipersyaratkan

Normal

Max 1

Max 4

Max 5

Max 0

5

Biji Hancur (Baby bid)

-

Kuning gading/ keputih2an

Normal

Max 1

Max 2

Max 5

Max 0

 

6.       Pengemasan

Pengemasan memiliki peran besar dalam memper tahankan mutu produk. Tanpa pengemasan yang baik, produk akan mudah rusak, akibat pengaruh sinar matahari, kelembaban udara dan kerusakan mekanik (luka, pecah dan patah).  Pengemasan tidak dapat meningkatkan / memperbaiki mutu tetapi dapat mempertahankan / melindungi mutu produk kemasan.

hutan cadangan pangan

Hutan cadangan pangan adalah kawasan hutan yang kaya berbagai jenis tanaman sumber pangan alternatif bagi masyarakat.

 

Tujuan :

*       Meningkatkan cadangan pangan nasional melalui upaya budidaya tanaman pangan di kawasan hutan dengan prinsip pengayaan (penambahan tanaman pangan) tanpa merubah fungsi hutan

*       Terciptanya diversifikasi pangan melalui jenis-jenis pangan alternatif

*       Terwujudnya partisipasi masyarakat secara interaktif dalam penyediaan pangan

 

Sasaran:

*       Terbangunnya hutan cadangan pangan di seluruh Indonesia sebagai sumber karbohidrat dan protein.

*       Berkembangnya kelembagaan masyarakat dalam pengembangan hutan cadangan pangan

 

Gerakan hutan cadangan pangan

adalah pengembangan minat dan kesertaan semua golongan masyarakat untuk mengembangkan jenis tanaman yang menghasilkan bahan sumber karbohidrat

 

Jenis kegiatan :

*       Pengembangan tanaman di bawah tegakan, dalam pembangunan HCP yaitu penanaman jenis tanaman yang menghasilkan bahan pangan dibawah tegakan. Dengan lokasi areal HPHTI (BUMN dan Swasta), areal HPHKM, areal reboisasi/ rehabilitasi lahan, areal hutan rakyat. Jenis tanaman yaitu umbi-umbian dan jenis tanaman tahan naungan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh pelaksana HPHTI/HPH bersama masyarakat setempat, BUMN (lingkup Dephutbun) bersama kelompok binaannya, pelaksana proyek HCP dengan masyarakat setempat, dan masyarakat pemilik hutan rakyat.

*       Pembuatan model HCP, adalah kegiatan penanaman dan atau memperkaya hutan dengan jenis-jenis tanaman/ pohon pangan yang berumur panjang. Areal model HCP berbentuk kompak pada satu hamparan dengan luas minimal 25 Ha dengan sasaran lokasi adalah lahan kosong dan tidak produktif dalam kawasan : hutan produksi diluar HPH/HPHTI/BUMN, hutan produksi yang dapat dikonversi yang belum ada peruntukannya, hutan lindung, zona pemanfaatan taman nasional dan tanah negara bebas. Jenis tanaman yang dipilih adalah sesuai kondisi iklim setempat, disukai dan dapat diterima sebagai makanan substitusi oleh masyarakat setempat. Komposisi jenis tanaman adalah 70% pohon menghasilkan karbohidrat dan 30% jenis MPTS (pohon serbaguna) penghasil pangan lainnya. Penyelenggara pembuatan model HCP adalah proyek pembangunan HCP.

*       Pengkayaan jenis tanaman pangan, adalah suatu kegiatan memperkaya jenis tanaman pokok dengan jenis-jenis pohon yang menghasilkan bahan pangan. Sasaran lokasi pelaksanaan kegiatan ini adalah lokasi penanaman jenis tanaman kehidupan pada pembangunan HTI (5% luas HTI) diletakan pada batas luas areal HTI yang berbatasan dengan pemukiman penduduk, lokasi kegiatan penanaman tanah kosong/ tidak produktif di areal HPH, lokasi kegiatan rehabilitasi hutan lindung dan rehabilitasi hutan eks HPH. Komposisi jenis tanaman adalah tanaman penghasil pangan + 30% dan + 70% adalah jenis tanaman kehidupan/ tanaman unggulan setempat/ tanaman kayu-kayuan. Penyelenggara adalah pelaksana HPHTI, pemegang HPH, pelaksana proyek rehabilitasi hutan dan masyarakat.

 

Persyaratan jenis tanaman HCP:

Jenis tanaman yang akan dikembangkan pada gerakan hutan cadangan pangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut :

*       Memenuhi persyaratan tumbuh pada lokasi yang ditanam, sehingga memperoleh produktivitas yang tinggi

*       Berfungsi baik melindungi tanah dari erosi dan berpengaruh baik terhadap tata air dan alam lingkungannya

*       Diutamakan jenis tanaman yang mengandung karbohidrat

 

Jenis-jenis tanaman:

*       Tanaman pohon/ tanaman tahunan seperti sukun, aren, nipah, sagu, tanaman buah-buahan seperti durian, duku, manggis

*       Tanaman umbi-umbian seperti iles-iles, garut, ganyong (ganyol), keladi (talas), gembili, ubi jalar, gadung, dll

*       Tanaman kehidupan/ tanaman unggulan setempat seperti jambu mete, kemiri, mangga, kayu manis, matoa

 

Sumber : dirjen rehabilitasi lahan dan perhutanan sosial

produksi dan sentra

Noma Komoditas

Produksi (Ton)

Sentra Produksi

1

3

4

Kelapa

13.341

Keling, Bangsri, Mlonggo, KrJawa

Kopi Robusta

873

Keling, Kembang, Batealit

Lada

19

Keling, Kembang, Mlonggo

Cengkeh

99

Keling, Kembang, Batealit

Jambu Mete

404

Keling, Kr Jawa, Mayong

Kapok  Randu

27.594

Keling, Kembang, Bangsri, Mlonggo, Batealit, Mayong

Jahe

1.458

Keling, Mlonggo, Batealit, Nalumsari

Kunyit

1.301

Keling, Kembang, Mlonggo, Bangsri, Nalumsari

Kencur

2.148

Keling, Mayong, Nalumsari

Laos

1.641

Keling, Kembang, Bangsri, Batealit, Mayong, Nalumsari

Tebu

175.541

Mayong, Nalumsari, Keling Kalinyamatan, Pecangaan

Kakao

5

Keling, Kembang, Batealit

Panili

3

Keling

Kapas

8

Kembang, Bangsri

Nama Perusahaan/ Asosiasi

Alamat

Komoditas

Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI)

Ruko Permata Plaza,   Jl Gajah Raya No. 88 Blok IV Semarang 50162                       Telp. 024-6747185

Kopi

Gabungan Pengusaha Jamu dan Obat Tradisional Indonesia

Gedung JDC Lt. 3 Jl. Imam Bonjol No. 154 – 160 Semarang – 50139 Telp. 024 3556263

Bahan Jamu dan Obat

PT. BENGSAR TRADING COY

Jl. Dorang No. 1 Semarang

Bahan Jamu

PT Tunas Inti Mulia

Jl. Genteng Besar no.81 Surabaya 60275     Telp. 031-5315428

Perdagang-an hasil bumi

PT. Sumber Arto I

Jl. A Yani No. 54 Jepara 59415         Telp. 0291-591314

Kapok Fibre /serat kapok

CV. Coconut Center (Repindo)

Jl. Nitikan Baru No. 9 Yogyakarta Telp. 02747494998

Pengolahan kelapa terpadu

Air sangat diperlukan bagi berbagai aspek hidup dan kehidupan, baik untuk manusia maupun mahluk hidup lainnya serta lingkungan yang ada disekitarnya. Akibat pertumbuhan penduduk dan peningkatan kesejahteraan masyarakat memacu meningkatnya pemanfaatan berbagai macam sumber daya air yang ada.

 

Dalam kehidupan sehari-hari air merupakan sumberdaya alam yang penting, baik dalam kehidupan rumah tangga maupun untuk menunjang pertumbuhan/ pembangunan ekonomi. Dengan dipacunya pertumbuhan ekonomi mengakibatkan permintaan akan sumberdaya air baik kuantitas maupun kualitasnya semakin meningkat pula. Sehingga pada tempat-tempat tertentu (perkotaan) kebutuhan akan air menyebabkan munculnya kerisauan berbagai pihak bahwa air bisa bergeser menjadi barang yang langka.

 

Untuk mengatasi atau mencegah terjadinya hal tersebut, maka yang dapat dilakukan oleh masyarakat saat ini adalah menghemat penggunaan air, menanam tanaman disekeliling halaman/ tanah kosong, mengurangi pemavingan halaman dan membuat sumur resapan.

 

Melihat kondisi curah hujan saat ini yang sangat tinggi, sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor dimana-mana, pembuatan sumur resapan merupakan cara yang paling baik dilakukan mengingat luas tanah yang dimiliki masyarakat sangat terbatas. Dengan pembuatan sumur resapan untuk setiap rumah, maka air hujan yang jatuh dari atap rumah dapat ditampung dan diresapkan ke dalam tanah. Dengan demikian volume air tanah yang ada dapat bertambah sehingga kecemasan akan kekurangan air tanah (sumur) tidak terjadi/ dapat dicegah dan disamping itu juga mengurangi terjadinya bahaya banjir di daerah hilir/ daerah rawan banjir.

 

Bangunan sumur resapan adalah bangunan yang menyerupai sumur gali dengan kedalaman tertentu yang berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh diatas atap rumah atau daerah kedap air dan meresapkannya kedalam tanah.

 

Manfaat Sumur Resapan

-     Mengurangi erosi dan sedimentasi

-     Menambah volume air tanah

 

Bangunan sumur resapan dapat dibuat dengan bentuk segi bentuk segiempat atau silinder. Dasar sumur harus terletak diatas permukaan air tanah sehingga tidak keluar air dan menjadi sumur. Berfungsi sebagai tempat menampung air hujan yang jatuh dari atap rumah atau daerah kedap air lainnya dan memasukannya kedalam tanah.

 

Dinding sumur tanpa atau dengan susunan batu bata, batu kali, batako, buis beton, anyaman bambu dan lain-lain. Dasar sumur tidak diisi batu belah maupun ijuk

Bangunan pelengkap :

- Bak kontrol dan tutup

- Tutup sumur resapan

- Saluran masuk dan keluar

- Talang air (kalau diperlukan)

 

>>des2008

Memasuki musim hujan begini, Gapoktan Langgeng Makmur yang berlokasi di Dukuh Tanggar, Desa Damarwulan, Kecamatan Keling, Jepara  banyak didatangi oleh para tamu. Sebagian besar mereka datang untuk membeli bibit yang dikembangkan selama ini baik untuk tanaman pertanian maupun kehutanan. “Banyak pemesan dari dalam dan luar daerah dengan jumlah banyak,” ujar Mahmudi maupun Solikan pengelola yang juga mengurus mewakili ketuanya, M. Masyruri kepada reporter Gelora Bumi Kartini.

Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Langgeng Makmur yang berdiri 11 Pebruari 2004 ini memang berhasil mengembangkan usahanya dalam bidang pembibitan dan pembenihan dengan memanfaatkan lahan seluas 1,6 hektar. Berbagai jenis tanaman yang dikembangkan dalam pembibitan itu antara lain ada lada, kakao, kopi, cengkeh, panili, kelapa (termasuk kelapa kopyor), sengon -laut dan beberapa jenis bibit tanaman pertanian maupun kehutanan. Harganya bervariasi melihat jenis bibitnya antara Rp 750 sampai Rp 17.500/ batang.

 

Mahmudi lantas memerinci harga-harga tersebut, misalnya saja harga bibit kakao umur minimal 6 bulan antara Rp 1.000- Rp 2.000/ batang, lada juga umur 6 bulan harganya Rp 2.500/ batang. Untuk bibit kopi aneka jenis harga sebatangnya antara Rp 750- Rp 1500. Demikian juga cengkeh harganya antara Rp 3.000-Rp 3.500/ batang, panili Rp 2.500/ batang, kelapa biasa Rp 6.500- Rp 10.000/ batang dan yang bibit kelapa kopyor antara Rp 10.000 – Rp 17.500/ batang. “Biasanya para pembeli dalam jumlah banyak jauh hari sudah memesan. Sehingga kadang sampai kehabisan stok dan banyak yang tidak kebagian,” ujarnya.

 

Dijelaskan, bahwa disamping dikembangkan di kelompok, beberapa pembibitan dilakukan di sub kelompok lain seperti cengkeh maupun sengon laut. Pihaknya juga berusaha untuk mengembangkan lebih banyak lagi demi mencukupi kebutuhan permintaan yang terus meningkat. Kesadaran masyarakat yang cukup tinggi dalam bertanam bibit di lahannya masing-masing menjadikan permintaan lebih banyak. “Kita baru saja menerima pesanan bibit kelapa dalam jumlah banyak dari kabupaten Rembang,” ujar Mahmudi didampingi Solikan.

 

Keberhasilan Gapoktan dalam membuka usaha pembibitan ini menjadi daya tarik dari pihak lain sehingga sering menjadi ajang studi banding dari daerah/ kabupaten lain seperti dari Semarang dan Rembang. Disamping itu lokasi ini juga baru saja menjadi tempat untuk kuliah lapang pertanian dari Keling dan Donorojo.

 

Ketua maupun pengurus lain mengakui perhatian pemerintah terhadap keberadaan Gapoktan Langgeng Makmur di Damarwulan ini cukup besar. Berbagai sarana dan prasarana dibantu termasuk gedung  sekretariat yang diresmikan oleh Bupati Hendro Martojo. Sarana dan prasarana yang dimilikinya antara lain ada g e n s e t, handtraktor, gudang, pompaair,screenhouse dan lahan pembibitan. Usaha  ini juga membuka lapangan pekerjaan baru dan menambah kesibukan bagi para ibu di sekitarnya.

 

KepaIa  Dishutbun Kabupaten Jepara, Drs Wahyudi, MM mengakui bahwa kegiatan yang dilakukan oleh Gapoktan Langgeng Makmur bisa menjadi contoh bagi kelompok lain. Masyarakat juga diharapkan untuk memanfaatkan hasil pembibitan ini. Disamping itu masyarakat juga diajak untuk sadar mengolah tanah dan mengembangkan usaha penanaman utamanya di daerah atas sehingga air tidak mengalir ke bawah tetapi meresap ke tanah. “Hutan, tanah dan air satu hal yang harus dirawat dalam upaya mewujudkan keseimbangan alam,” paparnya didampingi Kabid Perkebunan, Ir Paryono, MSi.

 

Dalam kesempatan terpisah, Ir Paryono, MSi menjelaskan, bahwa kelompok tani, koperasi, PPL dan anggota kelompok tani dari Jepara masing-masing meraih juara tiga baik tingkat Jateng maupun nasional dalam lomba akselerasi tebu dalam upaya meningkatkan swa sembada gula nasional.

 

Kelompok tani yang meraih juara itu dari Desa Nalumsari, sedang koperasinya Tani Maju dari Desa Pendosawalan. Untuk anggota kelompok taninya dari Desa Banyuputih. Prestasi juga diraih oleh petugas (PPL). Untuk PPL dan anggota kelompok tani meraih juara III tingkat nasional. Sedang kelompok tani dan koperasi juara III  tingkat Jawa Tengah,” papar Ir Paryono, MSi. (Skt)

 

(Gelora Bumi Kartini Edisi Nopember 2008 Halaman 30-31)

Tulisan Sebelumnya »